Pendekatan Studi Kasus di Organisasi Kesehatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang berfokus pada kantor pusat Eyelink Group PT Sarana Sehat Utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola pelatihan, instruktur, dan karyawan peserta pelatihan, disertai observasi langsung serta telaah dokumen internal perusahaan.
Untuk menilai efektivitas pelatihan, para peneliti menerapkan Model Evaluasi Pelatihan Kirkpatrick, sebuah kerangka evaluasi yang menilai pelatihan melalui empat tingkat: respons peserta, peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan dampak organisasi. Model ini banyak digunakan dalam pengembangan sumber daya manusia karena mampu menggambarkan hasil pelatihan secara menyeluruh, dari persepsi hingga dampak nyata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan sosialisasi visi, misi, dan budaya organisasi di Eyelink Group berjalan efektif pada seluruh tingkat evaluasi.
Pertama, respons peserta sangat positif. Karyawan menunjukkan antusiasme tinggi dan menilai materi pelatihan relevan dengan kebutuhan perusahaan yang sedang bersiap melakukan ekspansi nasional. Pelatihan dinilai membantu mereka memahami arah strategis perusahaan dan peran masing-masing individu dalam mendukung transformasi tersebut.
Kedua, terjadi peningkatan pemahaman yang signifikan. Setelah mengikuti pelatihan, karyawan mampu menjelaskan kembali tujuan ekspansi Eyelink Group, standar layanan kesehatan mata yang ingin dicapai, serta nilai-nilai budaya kerja yang harus diterapkan secara konsisten di seluruh cabang. Pemahaman ini memperkuat keterkaitan antara tugas harian karyawan dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
Ketiga, perubahan perilaku mulai terlihat dalam praktik kerja sehari-hari. Peneliti mencatat adanya peningkatan disiplin kerja, kolaborasi lintas divisi yang lebih baik, serta komunikasi internal yang lebih efektif. Nilai-nilai budaya organisasi tidak lagi berhenti pada konsep, tetapi mulai tercermin dalam cara karyawan bekerja dan berinteraksi.
Keempat, dampak organisasi muncul dalam bentuk komitmen dan kesiapan ekspansi. Pelatihan berkontribusi pada meningkatnya loyalitas dan rasa memiliki terhadap perusahaan. Konsistensi layanan kepada pasien juga membaik, yang menjadi faktor krusial dalam membangun kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan mata Eyelink Group.
Temuan ini menegaskan bahwa pelatihan internal bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan instrumen strategis dalam manajemen perubahan organisasi. Dalam konteks layanan kesehatan, keselarasan nilai dan perilaku karyawan berpengaruh langsung terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan pasien.
Peneliti menekankan bahwa organisasi yang sedang tumbuh cepat berisiko menghadapi konflik nilai dan ketidaksinkronan kerja jika proses internalisasi budaya tidak dirancang secara sistematis. Pelatihan yang terstruktur dan dievaluasi secara menyeluruh dapat mencegah risiko tersebut sekaligus memperkuat kesiapan organisasi menghadapi persaingan nasional.
Penelitian ini juga memberikan rujukan praktis bagi pimpinan perusahaan, khususnya di sektor jasa dan kesehatan, untuk merancang program pelatihan yang berkelanjutan. Evaluasi rutin dan pendampingan lanjutan, seperti mentoring dan coaching, dinilai penting agar nilai organisasi benar-benar tertanam dalam jangka panjang.
Arika Winda Azzaroh, S.M. – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Bidang keahlian: Manajemen sumber daya manusia dan pengembangan organisasi
Yanto Prasetyo, M.M. – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Bidang keahlian: Manajemen strategis dan pelatihan organisasi
Diah Sofiah, M.M. – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Bidang keahlian: Perilaku organisasi dan budaya kerja
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i1.539
URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/fjas

0 Komentar