Tasikmalaya- Pendekatan arsitektur yang menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam ruang dan bentuk bangunan kini mendapat sorotan. Ujang Ruli bersama Sri Pare Eni dan Yophie Septiadi dari Universitas Kristen Indonesia memperkenalkan konsep Intangible Metaphor Architecture untuk merancang fasilitas minat dan bakat santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menegaskan bahwa desain arsitektur tidak hanya soal fungsi fisik, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan spiritualitas santri.
Riset ini penting karena pesantren, sebagai salah satu pilar pendidikan Islam di Indonesia, menghadapi tantangan besar di era globalisasi. Di satu sisi, pesantren dituntut adaptif dan mampu mengembangkan potensi santri di bidang seni dan olahraga. Di sisi lain, pesantren harus tetap menjaga identitas dan nilai-nilai Islam yang menjadi ruh pendidikannya. Ketersediaan fasilitas yang tepat menjadi kunci agar kedua tujuan ini berjalan seimbang.
Pesantren dan Kebutuhan Fasilitas Modern
Pondok Pesantren Miftahul Huda di Manonjaya, Tasikmalaya, dikenal sebagai salah satu pesantren besar dengan jumlah santri yang signifikan. Berdasarkan kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tasikmalaya 2015–2035, kawasan Manonjaya diarahkan sebagai wilayah pengembangan pendidikan dan sosial-keagamaan. Namun hingga kini, fasilitas terpusat yang secara khusus mendukung pengembangan minat dan bakat santri—terutama di bidang seni Islam dan olahraga—masih terbatas.
Kondisi ini berdampak langsung pada optimalisasi potensi santri. Tanpa ruang yang memadai, aktivitas pengembangan bakat sering berjalan seadanya dan kurang terintegrasi dengan visi pendidikan pesantren. Padahal, pendidikan holistik menuntut keseimbangan antara aspek intelektual, sikap, dan keterampilan praktis.
Metafora Tak Berwujud dalam Arsitektur
Menjawab persoalan tersebut, tim peneliti mengusulkan pendekatan Intangible Metaphor Architecture. Berbeda dengan desain yang menonjolkan simbol-simbol religius secara eksplisit, pendekatan ini menerjemahkan nilai-nilai nonfisik Islam ke dalam pengalaman ruang, tatanan massa bangunan, dan suasana arsitektural.
“Tiga nilai utama pesantren—semangat ibadah, rahmatan lil alamin, dan ukhuwah—menjadi dasar metafora desain,” tulis Ujang Ruli dan tim dalam artikelnya. Nilai-nilai ini tidak hadir sebagai ornamen, melainkan tercermin dalam orientasi ruang, pola sirkulasi, fleksibilitas fungsi, hingga relasi antara ruang bersama dan ruang privat.
Semangat ibadah diterjemahkan melalui keteraturan dan orientasi ruang yang jelas, mencerminkan kesatuan tujuan. Nilai rahmatan lil alamin diwujudkan lewat desain yang inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Sementara itu, nilai ukhuwah hadir dalam ruang-ruang interaksi sosial yang mendorong kebersamaan, tanpa mengabaikan batasan privasi santri.
Mengapa Bentuk Heksagonal Dipilih?
Salah satu temuan menarik dalam riset ini adalah pemilihan bentuk dasar heksagonal untuk massa bangunan. Secara fungsional, bentuk heksagonal memungkinkan modul ruang tersusun rapat tanpa menyisakan ruang negatif, sehingga efisien dari sisi tata ruang. Dari sisi makna, heksagon merepresentasikan keteraturan, kerja kolektif, dan keberlanjutan—nilai yang sejalan dengan budaya pesantren.
Peneliti juga mengaitkan filosofi heksagonal dengan alam, seperti struktur sarang lebah yang disebut dalam Surah An-Nahl ayat 68–69. Meski tidak ditampilkan secara simbolik, inspirasi ini memperkuat pesan bahwa desain berangkat dari nilai Islam yang menyatu dengan prinsip keberlanjutan.
Sebagai pembanding, riset ini merujuk pada bangunan pendidikan Sanhuan Kindergarten di Jiangsu, Tiongkok, yang menggunakan modul heksagonal untuk menciptakan ruang belajar fleksibel dan interaktif. Contoh ini menunjukkan bahwa pendekatan modular semacam ini relevan untuk lingkungan pendidikan yang dinamis, termasuk pesantren.
Temuan Utama Penelitian
Hasil kajian menunjukkan beberapa poin penting:
- Pendekatan Intangible Metaphor Architecture efektif menerjemahkan nilai Islam ke dalam desain tanpa bergantung pada simbol fisik.
- Bentuk heksagonal mendukung efisiensi ruang sekaligus membawa makna kebersamaan dan keberlanjutan.
- Fasilitas yang dirancang mampu menampung kegiatan seni, olahraga, edukasi, dan rekreasi secara terpadu.
- Ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat aktivitas, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, spiritualitas, dan interaksi sosial santri.
Dampak bagi Pendidikan dan Kebijakan
Implikasi penelitian ini melampaui ranah arsitektur. Bagi dunia pendidikan Islam, desain fasilitas yang berlandaskan nilai dapat memperkuat proses pembelajaran holistik. Santri tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga membentuk sikap dan keterampilan melalui ruang yang mendukung kreativitas dan kebersamaan.
Bagi perencana wilayah dan pengambil kebijakan, riset ini memberi contoh bagaimana fasilitas pendidikan dapat dirancang selaras dengan nilai lokal dan agama, tanpa mengorbankan prinsip modernitas dan keberlanjutan. Model ini berpotensi direplikasi di pesantren lain dengan karakter budaya berbeda.
Profil Singkat Penulis
- Ujang Ruli – Universitas Kristen Indonesia
- Sri Pare Eni – Universitas Kristen Indonesia
- Yophie Septiadi– Universitas Kristen Indonesia

0 Komentar