Transformasi dari rekam medis manual ke sistem digital bertujuan meningkatkan mutu layanan, keselamatan pasien, dan akurasi data klinis. Namun di banyak rumah sakit, termasuk Pamanukan Medical Center, proses ini masih menghadapi hambatan. Ketidakkonsistenan pengisian data, kendala teknis sistem, serta perbedaan tingkat pemahaman dan motivasi tenaga kesehatan menjadi masalah yang kerap muncul dalam praktik sehari-hari.
Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif deskriptif terhadap data sekunder berupa laporan internal rumah sakit periode Januari–Desember 2024. Evaluasi difokuskan pada tujuh indikator utama EMR, yaitu identitas pasien, catatan konsultasi, resume medis, informed consent, hasil laboratorium dan radiologi, laporan operasi, serta formulir permintaan rawat inap. Seluruh temuan kemudian dipetakan menggunakan pendekatan Change Management model ADKAR (Awareness, Desire, Knowledge, Ability, Reinforcement) untuk melihat kesiapan perubahan di tingkat individu dan organisasi.
Hasil analisis menunjukkan capaian yang bervariasi. Laporan operasi mencatat tingkat kepatuhan tertinggi sebesar 95 persen, menandakan bahwa unit bedah telah relatif konsisten menerapkan dokumentasi elektronik. Hasil laboratorium dan radiologi mencapai 82,5 persen, sedangkan kelengkapan identitas pasien berada di angka 80 persen.
Sebaliknya, catatan konsultasi menjadi indikator terlemah dengan capaian hanya 50 persen, terutama karena diagnosis sering tidak diinput secara lengkap ke dalam sistem. Resume medis (70 persen), informed consent (75 persen), dan formulir permintaan rawat inap (75 persen) juga masih menunjukkan ketidakkonsistenan pengisian.
Pemetaan menggunakan model ADKAR mengungkap bahwa hambatan utama penerapan EMR berada pada tiga aspek kunci. Desire menunjukkan rendahnya motivasi sebagian tenaga kesehatan untuk mengisi rekam medis elektronik secara konsisten. Knowledge mencerminkan belum meratanya pemahaman standar dokumentasi EMR. Sementara itu, Ability berkaitan dengan keterbatasan keterampilan teknis dalam mengoperasikan sistem, terutama pada proses unggah dan akses dokumen elektronik.
Menurut para peneliti, temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan digitalisasi rumah sakit tidak cukup hanya dengan menyediakan sistem EMR. “Motivasi, pemahaman, dan kemampuan operasional tenaga kesehatan menjadi faktor penentu agar sistem digital dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” tulis penulis dalam artikelnya.
Implikasi penelitian
Implikasi penelitian ini penting bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan kesehatan. Penguatan strategi manajemen perubahan melalui pelatihan berkelanjutan, komunikasi yang lebih efektif, serta dukungan manajerial yang konsisten dinilai krusial untuk meningkatkan adopsi EMR. Bagi masyarakat, penerapan EMR yang lebih baik berarti layanan kesehatan yang lebih aman, efisien, dan terdokumentasi dengan baik.
Profil Penulis
- Sigit Nur Aziz, S.KM. – Universitas Islam Bandung
- Rivaldi Ramadhan, S.M. – Universitas Islam Bandung
- Dr. Ima Amaliah, S.E., M.Si. – Universitas Islam Bandung
- Dr. Nunung Nurhayati, S.E., M.Si. – Universitas Islam Bandung
Sumber Penelitian
Aziz, S. N., Ramadhan, R., Amaliah, I., & Nurhayati, N. (2026). Analysis of the Success of Electronic Medical Record Implementation Based on the Change Management Approach at Pamanukan Medical Center Hospital. International Journal of Management Analytics, Vol. 4 No. 1, hlm. 13–20.
DOI: 10.59890/ijma.v4i1.286
Link Jurnal :
https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma

0 Komentar